Kepala Bidang Perindustrian Dinas Dagperinkopukm Kabupaten Buleleng, I Gede Agus Wiswa Diatmika, ST bersama staf teknis melaksanakan kunjungan lapangan ke Kelompok Swarnaloka yang berlokasi di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Selasa (5/5). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meninjau potensi pengembangan kapas sebagai bahan baku industri kerajinan lokal, khususnya kain tenun tradisional yang menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat setempat.
Desa Julah dikenal memiliki potensi alam yang mendukung pengembangan budidaya kapas. Selain potensi sumber daya alam, Desa Julah juga memiliki kekayaan budaya berupa tradisi menenun yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keterampilan menenun yang dimiliki masyarakat, khususnya kaum perempuan, menjadi modal penting dalam mengolah kapas mulai dari proses pemintalan menjadi benang hingga menghasilkan kain tenun bernilai ekonomi tinggi. Pengembangan kapas lokal diharapkan mampu memperkuat rantai produksi tenun sekaligus menjaga identitas budaya khas Desa Julah.
Sebagai langkah awal, dilakukan koordinasi bersama Ibu Made Ratna untuk menyamakan persepsi terkait rencana kegiatan, tujuan pelaksanaan, lokasi serta pihak-pihak yang akan terlibat. Koordinasi ini penting agar program pengembangan yang dirancang dapat berjalan secara terarah, sistematis dan memberikan manfaat nyata bagi kelompok perajin.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke sentra pemintalan kapas milik Ibu Jro Rapuh. Pada kesempatan tersebut, tim melakukan peninjauan langsung terhadap proses pemintalan kapas yang masih menggunakan alat tradisional berupa jantra. Jantra merupakan alat sederhana berbahan kayu yang digunakan untuk memintal serat kapas menjadi benang secara manual, terdiri dari roda pemutar, poros, penggulung benang, tali penggerak, dan rangka penopang.
Proses pemintalan dilakukan dengan cara memutar roda secara manual sambil menarik kapas yang telah dibersihkan hingga serat-seratnya menyatu membentuk benang. Benang yang dihasilkan kemudian digulung pada spindle. Proses ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tinggi agar benang yang dihasilkan kuat, rapi, dan tidak mudah putus. Penggunaan jantra menunjukkan bahwa masyarakat masih mempertahankan teknik produksi tradisional yang ramah lingkungan dan memiliki nilai budaya tinggi.
Selanjutnya, tim meninjau unit penggulungan benang yang dikelola oleh Ibu Luh Mertanadi. Pada tahap ini, benang hasil pemintalan disusun dan digulung secara rapi sebagai persiapan menuju proses penenunan. Tahapan penggulungan memiliki peran penting dalam menentukan kerapian serta kelancaran penggunaan benang saat proses tenun berlangsung.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke unit penenunan milik Ibu Ketut Sarining. Pada unit ini, proses produksi menggunakan alat tradisional yang dikenal dengan nama penganyinan, yaitu alat untuk menyusun dan mengatur benang dalam proses pembuatan kain tenun. Tahapan penenunan diawali dengan proses nganyinin, yaitu penyusunan benang sekaligus pembentukan motif sesuai pola yang diinginkan. Setelah itu dilanjutkan dengan proses nyasah untuk merapikan dan menyesuaikan posisi serta ketegangan benang.
Tahap akhir adalah ngentegang, yaitu proses penyempurnaan hasil tenun dengan memastikan benang terpasang kuat dan struktur kain terbentuk dengan baik. Setelah selesai, kain hasil tenunan perajin lokal akan diproses lebih lanjut di Pagi Motley untuk pewarnaan menggunakan warna alam yang berkualitas dan ramah lingkungan, sehingga menghasilkan produk kain tenun yang bernilai jual tinggi dan memiliki daya saing.
Melalui kegiatan ini, diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai rantai produksi kapas hingga menjadi kain tenun tradisional. Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan industri berbasis potensi lokal, pelestarian budaya, serta peningkatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Desa Julah.
#PemkabBuleleng
#BulelengPaten
#KerjaMantap
#KerjaCerdasIklhasTuntas
#DagperinkopUkm
#KitaHebatHebatHebatLuarBiasa
#BulelengBali