"Rakor Anev Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras Tahun 2026 Periode Minggu Kelima"
Izin melaporkan kegiatan Rapat Koordinasi Analisis dan Evaluasi (Rakor Anev) Satuan Tugas Pengawasan Harga dan Mutu Beras Tahun 2026 Periode Minggu Kelima, tanggal 5–11 Oktober 2026, yang dilaksanakan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Dari Kabupaten Buleleng, kegiatan diikuti melalui Zoom Meeting bersama yang bertempat di Kantor Satreskrim Polres Buleleng. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Buleleng, Made Mira Tri Yulia Ida Justisiana, S.T., M.A.P. Rakor dipimpin oleh Brigadir Jenderal Polisi Zain Dwi Nugroho.
Dalam rapat disampaikan bahwa Satgas telah mencatat sebanyak 16.358 kegiatan pemantauan sejak minggu pertama, dengan 3.460 laporan pada minggu kelima atau meningkat 2,28% dibandingkan minggu sebelumnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa harga beras premium di Zona 1 mulai berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), sedangkan Zona 2 dan Zona 3 masih mengalami tekanan harga, termasuk di Bali. Untuk beras medium, sebagian besar wilayah Zona 1 dan Zona 2 telah berada di bawah HET, namun Bali masih menjadi salah satu wilayah yang memerlukan perhatian. Sementara itu, harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) relatif stabil di bawah HET pada Zona 1 dan Zona 2, meskipun masih ditemukan sejumlah toko yang mengalami kekosongan stok.
Rakor juga mengevaluasi realisasi bantuan pangan periode Juli–September yang telah mencapai 98,64%, serta mendorong percepatan penyaluran bantuan pangan periode Oktober–Desember agar dapat mencapai 100%. Selain itu, dibahas perlunya optimalisasi distribusi beras SPHP, peningkatan pengawasan mutu beras, serta penanganan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan. Temuan beras SPHP yang tidak memenuhi standar mutu, seperti berjamur, berkutu, dan berubah warna, menjadi perhatian serius untuk ditindaklanjuti bersama pihak terkait.
Khusus untuk Provinsi Bali, disampaikan bahwa sebagian besar pasokan beras didatangkan dari Jawa, terutama Banyuwangi. Harga beras di tingkat produsen yang mendekati HET masih mengalami peningkatan ketika sampai di Bali akibat biaya distribusi antarpulau. Oleh karena itu, direkomendasikan koordinasi antara Satgas Bali dan Jawa Timur untuk mencari solusi distribusi serta pengajuan fasilitasi distribusi pangan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas). Faktor lain yang turut memengaruhi kenaikan harga pangan meliputi dampak musim kemarau dan El Niño terhadap produksi, harga gabah yang melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP), panjangnya rantai pasok, serta meningkatnya biaya kemasan dan transportasi.
Sebagai langkah strategis, pimpinan rakor mendorong Polda dan Polres bersama pemerintah daerah untuk mengintensifkan Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar melalui penjualan langsung dari produsen kepada konsumen. Satgas juga diminta meningkatkan ketepatan waktu pelaporan, memperkuat pengawasan harga dan mutu beras, serta tidak berhenti mencari solusi terhadap komoditas yang masih dijual di atas HET. Melalui kegiatan ini, diharapkan koordinasi lintas sektor di Kabupaten Buleleng semakin optimal dalam mendukung stabilisasi harga, menjaga ketersediaan pasokan, dan melindungi daya beli masyarakat.
#PemkabBuleleng
#BulelengPaten
#KerjaMantap
#KerjaCerdaslklhasTuntas
#DagperinkopUKM
#KitaHebatHebatHebatLuarBiasa
#BulelengBali